shoutmix


ShoutMix chat widget

Minggu, 17 April 2011

Dada Ayam yang Sombong


Dada Ayam yang Sombong
Di satu peternakan hiduplah dua ekor ayam aneh.
Ayam pertama mempunyai dada yang menggelembung. Dadanya selalu penuh oleh pujian ayam-ayam lain. Ia memang mempunyai banyak kepandaian yang menjadikannya sombong.
Ia berkokok paling pagi.
Ia dapat mengepakkan sayap dan terbang lebih tinggi dari teman-temannya.
Ia juga memiliki bulu yang paling bersih, warna jengger paling merah, serta kuku taji yang berlekuk paling bagus.
Kalau ia berjalan, dadanya selalu sampai lebih dulu.
Waktu makan bersama, ayam-ayam lain merasa sesak karena dadanya yang menggelembung besar.
Ayam kedua mempunyai kepala yang besar. Kepalanya selalu penuh oleh pertanyaan. Semua hal di peternakan menarik hatinya.
Ia mempertanyakan:
“Kenapa ayam bangun paling pagi?”
“Kenapa sapi bisa mengeluarkan susu?”
“Kenapa tikus dan babi sangat bisa makan apa saja?”
Kalau ia berjalan, badannya selalu oleng karena kepalanya yang berat.
Waktu makan bersama, ia lebih banyak diam dan memperhatikan teman-temannya.
Suatu hari ayam dengan dada yang menggelembung dan ayam dengan kepala yang besar duduk berdua di tepi kubangan kerbau.
Ayam dengan dada menggelembung mulai menyombong,
“Setiap pagi aku berkokok paling pagi!”
Dengan kesombongan itu, dadanya tambah menggelembung.
Ayam berkepala besar menyahut dengan pertanyaan,
“Memang kenapa kalau kau berkokok paling pagi? Untuk membangunkan manusia? Kalau kau tidak bangun pagi dan ada yang bangun lebih pagi di antara kita, pasti dia akan berkokok dan membangunkan manusia, kan?”
Dengan pertanyaan itu, kepalanya bertambah besar.
Ayam dengan dada menggelembung menambahkan,
“Aku dapat mengepakkan sayap dan terbang lebih tinggi daripada kalian.”
Dadanya tambah menggelembung.
Ayam dengan kepala besar menyahut lagi,
“Memang apa gunanya kau kepakkan sayapmu? Buat apa kau terbang kalau kau takut pergi dari pertenakan ini? Kau tidak bisa pergi kemana-mana juga, kan?”
Kepalanya membesar lagi.
Ayam dengan dada menggelembung tidak mau kalah,
“Aku memiliki bulu yang paling bersih, warna jengger paling merah, serta kuku taji yang berlekuk paling bagus!”
Dadanya makin sesak dan sudah hampir meledak.
Ayam dengan kepala besar menimpali,
“Apa gunanya bulu bersih kalau nantinya kau kotori juga dengan debu? Buat apa jengger paling merah kalau tidak ada fungsinya? Untuk apa juga taji yang cantik kalau hanya untuk mengorek tanah?”
Waktu ayam dengan kepala besar menyelesaikan pertanyaannya, dada ayam yang menggelembung meledak dan mengeluarkan bunyi yang mengagetkan peternakan. Disusul dengan kepala ayam besar pecah.
Berantakan.

Sumber: edowallad >>  http://www.kemudian.com/node/62667




Moral1 : kalo cerita ini terjadi pada manusia...pasti tidak akan ada yang bersikap sombong lagi... soalnya dadanya akan membesar seketika jika dia berkata sombong...ketauan deh. tapi kalo setiap orang bertanya terus kepalanya tambah besar... bakal jadi idiot semua dunk.. soalnya gak ada lagi yang berani mempertanyakan apapun
Moral2:  jadi orang itu tidak boleh sombong dan jangan terlalu banyak nanya

Dua Kucing dan Dua Onigiri

Suatu hari ada seekor kucing besar dan seekor kucing kecil. Dua ekor kucing tersebut menemukan dua buah onigiri. Kucing yang besar menemukan onigiri kecil, sedangkan kucing yang kecil menemukan onigiri besar. Karena hanya mendapatkan onigiri yang kecil, kucing besar itu berkata kepada kucing yang kecil.
“Hei, kucing kecil. Lihatlah, badanmu kan kecil kenapa kamu mau makan onigiri yang besar? Ayo tukarkan dengan onigiriku saja” kata kucing besar.
“Enak saja. Aku kan yang menemukan onigiri besar ini, jadi walaupun badanku kecil aku berhak makan onigiri besar” kata kucing kecil.
“Heh, dimana-mana itu kalau kucing kecil makannya ya sedikit. Kalau kucing besar makannya ya banyak. Kok begitu saja kamu tidak tahu sih?”
“Nah, aku kini tahu akal bulusmu. Kamu khawatir kan kalau aku makan onigiri besar ini badanku akan menjadi besar. Kalau badanku besar, kamu takut kalah saingan kan?”
“Bukan begitu. Tapi wajarnya karena badanmu kecil, ya makanmu juga sedikit saja. Nanti kalau makan kebanyakan perutmu akan sakit”
“Ah, kamu ini mau mencoba membujukku ya? Pokoknya aku gak mau!”
Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya kedua kucing itu saling bertengkar. Pada saat bertengkar itu, kucing besar mendapatkan ide.
“Begini saja, bagaimana kalau kita pergi bertanya kepada kera. Mungkin dia mempunyai pendapat yang lebih bagus” kata kucing besar.
“Baiklah aku setuju” kata kucing kecil.
Akhirnya dengan menggelindingkan onigiri di sepanjang jalan, mereka pergi menemui kera. Kedua kucing itu lalu menceritakan persoalan yang sedang mereka hadapi.
“Hmm… sulit juga ya. Tapi kalau menurut pendapatku, bagaimana kalau dua onigiri ini dibagi rata hingga mencapai besar yang sama?” tanya kera.
“Baik, saya setuju”
“Saya juga setuju”
“Baiklah, sementara aku menimbang berat onigiri ini, kalian pergilah sedikit menjauh”
Akhirnya kera memegang dua buah onigiri itu di tangan kanan dan kirinya. Ia mencoba menimbang-nimbang dengan tangannya.
“Hmm… kok berat yang kanan ya?” kata kera seraya mengambil sedikit bagian onigiri di tangan kanannya lalu memakannya.
Kera lalu menimbang-nimbang lagi.
“Kok terasa berat yang kiri ya?” katanya lagi seraya mengambil sedikit bagian onigiri dari tangan kirinya lalu memakannya.
Kera terus menimbang-nimbang berat onigiri itu. Namun ia tetap tidak bisa merasakan berat onigiri yang sama. Sampai akhirnya dua buah onigiri itu pun habis dimakannya sedikit demi sedikit. Melihat kedua onigiri mereka habis, kedua kucing itu pun sangat kecewa. Mereka pulang sambil menangis tersedu-sedu. Miauww…
Judul asli: Futatsu no Omusubi (Dua Buah Omusubi) berasal dari Prefektur Fukuoka.
Moral : jangan selalu percaya dan bergantung kepada saran orang lain, biasa saja mereka hanya memanfaatkan keadaan kita pada akhirnya.

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More