shoutmix


ShoutMix chat widget

Jumat, 15 Oktober 2010

homo homini lupus homo homini socius, all about


HOMO HOMINI LUPUS MASA KINI

Peristiwa Sumanto beberapa tahun yang lalu begitu mengemparkan, membuat ketidakmengertian mengapa ada manusia yang memakan manusia lainnya walau sudah berbentuk mayat. Kanibalisme sungguh sangat tidak bisa ditolelir sama sekali. Bagaimana dengan masa kini ? Kalau kita mau cermati tentunya kita akan melihat bahwa pemangsaan atau kanibalisme ini telah mengalami perubahan kondisi. Kanibalisme telah berubah bentuk yang lebih halus, yaitu perilaku, cara berfikir, manner, pemahaman, dll.
Homo Homini Lupus telah berkembang melewati batas individu, antar kelompok, bangsa, dan mungkin perlahan telah membentuk suatu kebudayaan sendiri. Homo Homini Lupus telah masuk dalam relung aktivitas manusia, baik itu ekonomi, social, hukum, politik dengan segala bungkus atribut kekinian. Sebagian manusia telah kehilangan cara pandang hidupnya (way of life) sehingga mereka khilaf akan kedudukannya sebagai mahluk yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Nilai-nilai kemanusian nan penuh keadilan dan beradab yang Tuhan anugerahkan mengalami pasang surut, bahkan terombang-ambing dalam batas kepudaran. Nah disinilah homo homini lupus akan mengalami reproduksi yang sangat luar biasa.
Pembangunan untuk Perubahan
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta dapat mengisyaratkan bahwa pembangunan sudah merata terwujud. Hal ini karena pertumbuhan tidak bisa menjawab keseluruhan tantangan pembangunan. Adanya ketimpangan dan kemiskinan, serta kecenderungan kondisi yang kaya makin kaya, dan yang miskin akan semakin terpuruk, inilah yang menjadi alasan. Bagaimana mengkondisikan pembangunan sebagai perubahan atas kondisi ini ? Bagaimana pembangunan menjadi upaya perwujudan dari keadilan secara menyeluruh ? Jawabnya bahwa pembangunan harus menyentuh lapisan masyarakat luas dengan segala aspek dan pengharapannya akan perubahan.
Fungsi dan keberadaan pemerintah akan berjalan dan mengalami kulturisasi dari yang sifatnya service provider, berlanjut ke people-centered development yang akhirnya kepada kondisi sustainable development. Dengan kondisi seperti ini maka masyarakat merupakan subyek dan sekaligus objek atas pembangunan tersebut. Ketika masyarakat diberdayakan dan didorong pada kemandirian, maka pembangunan akan terasa sekali perubahannya. Seiring dengan hal tersebut maka pemerintah terkondisi untuk mempunyai kewajiban menyediakan beraneka ragam jasa dan pelayanan kepada masyarakat.
Persaingan atau Peperangan Modern
Setelah peperangn Badar yang terasa amat berat dan melelahkan, Rasulullah SAW mengingatkan kepada kaum muslimin akan adanya perang yang lebih dahsyat dari perang Badar, yaitu perang mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Di jaman yang menglobal ini kepentingan-kepentingan insani akan semakin mudah terakomodasikan. Ekonomi menjadi pokok pertimbangan langkah manusia sekarang, telah juga menglobal ditandai dengan semakin kaburnya batas-batas ekonomi suatu Negara (bonderless world). Nafsu diberi keleluasaan untuk berlari di atas keberagaman keinginan, keingintahuan, dan kemauan agar mempunyai sesuatu yang lebih diatas yang lain.
Rapuhnya eksistensi pemerintah dalam menghadapi ekonomi global akan langsung menghadapkannya ke dalam kehidupan masyarakat. Apabila resistensi masyarakat rendah, maka goncangan bahkan chaos adalah kemungkinan yang terjadi. Sementara itu secara mendasar persaingan atau peperangan modern bagi orang perorangan adalah bagaimana mempertahankan diri sendiri untuk tetap dapat hidup.
Pemerintah sebagai representasi dari bentuk kepemimpinan hendaknya bersikap responsif, tanggap atas saran, masukan, maupun keluhan publiknya, tetapi tidak reaksioner. Unit terkecil dari pemerintah hendaknya mampu untuk mengambil sikap (keputusan) atas tantangan (masalah) yang dihadapinya. Kemampuan untuk bekerja sama, menanggung kewajiban dan resiko bersama baik itu yang sifatnya internal maupun eksternal, serta tidak tumpang tindih atas pelaksanaan kegiatan akan menunjukkan kredibilitas serta kapabilitas suatu pemerintah.


Sumber: http://mahadayadiri.wordpress.com/2008/10/28/homo-homini-lupus-masa-kini/

Kanibalisme merupakan sebuah fenomena di mana satu makhluk hidup makan makhluk sejenis lainnya. Misalkan anjing yang memakan anjing atau manusia yang memakan manusia. Kadang-kadang fenomena ini disebut anthropophagus (Bahasa Yunani anthrôpos, “manusia” dan phagein, "makan"). Secara etimologis kata “kanibal” merupakan kata pungutan dari Bahasa Belanda yang pada gilirannya memungut dari Bahasa Spanyol (entah lewat bahasa apa); “canibal” yang berarti orang dari Karibia. Di daerah ini oleh penj(el)ajah ditemukan fenomena ini.

Selain di Karibia, di Amerika hal ini pada zaman dahulu kala banyak terjadi pula, misalnya di antara suku Anasazi, Bangsa Maya dan Aztek. Selain itu di Asia-Pasifik, kanibalisme juga pernah ditemukan. Antara lain di antara suku Batak di Sumatra Utara, suku Dayak di Kalimantan, suku Asmat di Papua, beberapa suku lainnya di Papua Barat maupun Timur, Fiji dan daerah Melanesia lainnya. Di Papua Nugini di antara suku Fore, kanibalisme menimbulkan penyakit kuru.

Ada beberapa petunjuk bahwa kanibalisme secara ritual juga pernah muncul di pulau Jawa, BaliSulawesi. Jadi secara praktis hampir di seluruh Indonesia. dan

Pada zaman modern, kanibalisme secara insidentil pernah muncul di Amerika Serikat, pada kasus Ekspedisi Donner, Ukraina pada tahun 1930-an, di Leningrad pada Perang Dunia II dan di Andes ketika ada kecelakaan pesawat terbang pada tahun 1972. Kasus terakhir ini pernah dibuatkan film Alive pada tahun 1992.

Konsep dan Jenis Kekerasan
Kekerasan tidak saja berarti serangan fisik terhadap seseorang atau perusakan terhadap milik seseorang, tetapi juga meliputi semua bentuk tindakan yang dapat menghalangi seseorang untuk merealisasikan potensi dirinya dan mengembangkan pribadinya. Demikian menurut Johan Galtung sebagaimana dikutip oleh Guru Besar Sosiologi Prof. Dr. Nasikun.
Di dalam pengertian yang sempit kekerasan mengandung makna sebagai “serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang; atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang”.
Dalam pengertian yang lebih luas, kekerasan meliputi semua bentuk tindakan yang dapat menghalangi seseorang untuk merealisasikan potensi dirinya (self-realization) dan mengembangkan pribadinya (personal growth), yang merupakan dua jenis hak dan nilai manusia yang paling azasi. Adalah suatu kekerasan apabila tindakan seseorang atau sekelompok orang akhirnya mempengaruhi sedemikian rupa secara fisik dan/atau mental proses pengembangan diri dan pribadi seseorang sehingga di bawah realisasi potensialnya.
Dari uraian singkat ini dapat diketahui bahwa dalam arti luas, kekerasan tidak hanya meliputi dimensi fisik, akan tetapi juga dimensi yang bersifat psikologis. Dengan kata lain, tindak kekerasan tidak hanya meliputi pencurian, perampokan, penganiayaan dan pembunuhan, akan tetapi juga kebohongan, indoktrinasi, ancaman, tekanan, dan sejenisnya, yang dilakukan untuk menghasilkan akibat terhalangnya aktualisasi kemampuan potensial mental dan daya pikir seseorang. Rekayasa bahasa melalui penggunaan kalimat-kalimat pasif di dalam pernyataan-pernyataan politik para pejabat penyelenggara negara, merupakan contoh yang menarik.
Di dalam artikelnya, “On the Social Cost of Modernization: Social Disintegration, Anomie and Social Development“, Johan Galtung (1996) membedakan delapan jenis tindak kekerasan yang semakin menjadi ancaman manusia, (sebagaimana dikutip Nasikun), sebagai berikut.
  1. Kekerasan terhadap alam, yang disebut sebagai ecological crime
  2. Kekerasan terhadap diri sendiri, seperti stress, bunuh diri, alkoholisme, dan sejenisnya
  3. Kekerasan terhadap keluarga, seperti child abuse dan woman abuse, yang dilakukan melalui pengungkapan fisik maupun verbal,
  4. Kekerasan terhadap individu, seperti pencurian, perampokan, perkosaan, dan pembunuhan
  5. Kekerasan terhadap organisasi, yang di dalam pengungkapannya dapat berupa korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
  6. Kekerasan terhadap kelompok, meliputi berbagai bentuk kekerasan antar-kelompok, antar-kelas, atau antar-bangsa
  7. Kekerasan terhadap masyarakat, berupa perang dan penindasan antar-bangsa atau antar-negara, dan
  8. Kekerasan terhadap dunia lain, berupa kekerasan antar-planet.
Kekerasan nomor tiga sampai dengan enam dalam sistem pencatatan dan pelaporan nasional dikenal sebagai tindak kejahatan.
Sosiologi Kekerasan
Menurut Galtung, kekerasan merupakan antitesis dari konsep perdamaian. Sebagian ahli menyatakan bahwa kekerasan merupakan hal yang tumbuh “secara alamiah”  yang bersumber dari keadaan alamiah sosok manusia sebagai “homo homini lupus“.
Mengikuti konsep Galtung, Dr. Nasikun menyatakan bahwa ada hubungan antara kekerasan personal dengan kekerasan struktural. Memang, dua jenis kekerasan itu secara empirik dapat berdiri sendiri-sendiri, tetapi keduanya cenderung memiliki hubungan yang dialektis. Di dalam situasi struktur sosial atau kekuasaan masyarakat menghadapi ancaman yang besar, mereka yang oleh karena kekuasaan memperoleh keuntungan-keuntungan dari penggunaan kekerasan struktural, pada umumnya akan berusaha mempertahankan “status quo” melalui kekerasan struktural. Demikian juga, seorang individu, dengan melakukan kekerasan personal akhirnya dapat meraih kekuasaan.
Kekerasan dan Kekuasaan
Kekerasan sering digunakan untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan.  Galtung membedakan tiga jenis kekuasaan, yaitu: (1) ideologis, (2) remuneratif, dan (3) punitif.
Kekuasaan jenis pertama memiliki sumber legitimasi dari dalam kepribadian atau kharisma seorang pemimpin yang menjadikannya dia sebagai penguasa (power-sender).  Pemimpin demikian memiliki kemampuan persuasi untuk menguasai, mempengaruhi gagasan dan kesadaran mereka yang berada di bawah kepemimpinannya (power recipients).
Kekuasaan jenis kedua bersumber dari kemampuannya untuk memberikan ganjaran berupa barang-barang, kemakmuran, jabatan, atau bentuk-bentuk kemaslahatan yang lain.
Kekuasaan jenis ketiga bersumber dari kemampuannya untuk memberikan sanksi berupa penderitaan (nestapa), Galtung menyebutnya sebagai kejahatan, terhadap mereka yang berada di bawah kekuasaanya.
Oleh karena sumbernya berbeda-beda, maka kekuasaan ideologis memproduksi kepatuhan, kekuasaan remuneratif memproduksi ketergantungan, dan kekuassaan punitif memproduksi rasa takut, maka jenis kekerasan yang dihasilkan apabila –misalnya– harus mempertahankan kekuasaan, pun berbeda-beda.
Kekuasaan ideologis menggunakan kekerasan psikologis, melalui indoktrinasi dan berbagai rekayasa pemikiran, jenis kedua akan menggunakan kekerasan psikologis dan fisik, misalnya penurunan jabatan, pemecatan, berbagai bentuk korupsi, kolusi, dan lain-lain, sedangkan kekuasaan jenis ketiga, akan menggunakan kekerasan fisik dan psikologis melalui penyiksaan, penganiayaan, ancaman, tekanan,dan sejenisnya.
(Sumber: Ulumul Quraan No 5/VII/1997, diterbitkan oleh LSAF)
Makna manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak mungkin hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain, karena memang manusia diciptakan Tuhan untuk saling berinteraksi, bermasyara kat / bersilaturahmi dengan sesama serta dapat saling tolong menolong dalam memenuhi kebutuhannya.


Kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkumpul dengan sesama merupakan kebutuhan dasar (naluri) manusia itu sendiri yang dinamakan Gregariousness. Maka dengan demikian manusia merupakan makhluk sosial ( Homo Socius) yaitu makhluk yang selalu ingin berinteraksi dengan sesama/ bergaul. Adapun ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama sesamanya dinamakan ilmu sosiologi.
Manusia dalam memenuhi kebutuhannya di ungkapkan oleh Adam Smith ( 1723-1790) dalam bukunya yang berjudul “ An Inquiry into the nature and causes of the wealth of nations”, yaitu Manusia merupakan makhluk ekonomi ( Homo Economicus) yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya. (self Interest).
Sebagai makhluk ekonomi manusia selalu bertindak Rasional artinya selalu memperhitungkan sebab akibat (untung- rugi) dalam mengambil suatu keputusan dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehingga tidak merugikan diri sendiri. Namun demikian makhluk ekonomi bukanlah makhluk egois yang hanya
Manusia dalam memenuhi kebutuhannya
guna mencapai kemakmuran.mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain. Makhluk ekonomi cenderung menggunakan prinsip prinsip ekonomi dalam aktifitasnya
• Homo homini lupus = manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (maksudnya manusia merugikan /membuat kelicikan/ kejahatan terhadap manusia lainnya.
• Homo homini socius = manusia menjadi kawan bagi manusia lainnya.
• Aristoteles (seorang filsuf yunani ) menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu hidup bermasyarakat. (zoon politicon).

2. Ciri Ciri Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral.

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk saling tolong menolong, setia kawan dan toleransi serta simpati dan empati terhadap sesamanya. Keadaan inilah yang dapat menjadikan suatu masyarakat yang baik, harmonis dan rukun, hingga timbullah norma, etika dan kesopan santunan yang dianut oleh masyarakat. Bila hal hal diatas dilanggar atau terabaikan maka terjadilah yang dinamakan penyimpangan sosial.
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki 2 harat yaitu:
1.Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia yang lain di sekelilingnya ( Masyarakat).
2.Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekitarnya.
Manusia sebagai makhluk ekonomi memiliki Ciri- ciri yaitu:
1.Cenderung melakukan tindakan ekonomi atas dasar kepentingan sendiri
2.Cenderung melakukan tindakan ekonomi secara efisien. ( selalu memikirkan perbandingan antara apa yang dikorbankan/ dikeluarkan dengan apa yang akan dicapai / hasilnya.).
3.Cenderung memilih suatu kegiatan /aktifitas yang paling dekat dengan pencapaian tujuan yang diinginkan.
Ketiga kecenderungan ini disebabkan karena kebutuhan atau keinginan manusia yang selalu bertambah sedangkan sumberdaya / pemuas kebutuhan sifatnya terbatas.
Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya adalah:
A.Faktor Intern:
1.Sikap dan gaya hidup
2.Selera
3.Pendapatan
4.Intensitas kebutuhan

B.Faktor Ekstern
1.lingkungan
2.Adat istiadat
3.Kebijakan pemerintah
4.Mode / Trend
5.Kemajuan teknologi dan kebudayaan
6.Keadaan alam

3.Hubungan antara manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang bermoral.

Manusia dalam memenuhi kebutuhannya tak lepas dari hubungannya dengan orang lain, karena dengan adanya hubungan tersebut maka apa yang dibutuhkan mungkin dapat terpenuhi, sebagai contoh; Manusia membutuhkan makan nasi maka ia harus pergi ke pasar untuk membeli beras pada penjual beras, adapun penjual beras tentunya mendapatkan beras (membelinya) dari para petani di desa. Hubungan jual beli ini tentunya akan lebih baik dengan mengindahkan etika dan norma (Moral) yaitu tidak melakukan kecurangan dalam transaksi jual belinya. Seperti mengurangi timbangan atau transaksi dengan menggunakan sebagian uang palsu dan berbagai bentuk kecurangan lainya.
Bila terjadi kecurangan kecurangan tentunya hubungan antar manusia tidak akan harmonis. Walau manusia sebagai makhluk ekonomi yang selalu ingin mementingkan diri sendiri dalam memenuhi kebutuhannya namun tidak dibenarkan untuk melakukan kecurangan dalam memperoleh apa yang diinginkannya.
Manusia tidak boleh mengabaikan etika dan nilai nilai moral didalam hubungannya dengan manusia lain (homo socius) dan dalam memenuhi kebutuhannya (homo economicus).
Sumber: http://rudees.blogspot.com/2008/08/buku-kerja-siswa.html

Gen Neanderthal DI TUBUH MANUSIA MODERN

Oleh Dewi Mardlanl
Tanpa disadari, dalam tubuh manusia modern saat ini ternyata hidup gen-gen warisan manusia Neanderthal.
Memang, tak semua orang menyadarinya. Namun, ada keyakinan bahwa manusia yang ada saat ini memiliki garisketurunan dengan manusia purba yang ditemukan di Eropa ini.Pandangan ini tak sekadar pendapat dari para ahli, melainkan didasarkan pada studi ilmiah terhadap bentang alam. Temuan ilmiah ini memang mengejutkan banyak pakar. Karena, bukti-bukti gen yang didapatkan sebelumnya menyatakan bahwa sedikit atau bahkan tidak ada keterlibatan Neanderthal dengan luluhur manusia masa kini.
Hasil studi ini berdasarkan analisis gen Neanderthal sebagai panduan yang menjelaskan bagaimana manusia purba ini secara bersamaan ditemukan. Sekitar satu sampai empat persen dari gen manusia Eurasia tampaknya berasal dari Neanderthal. Studi tersebut menegaskan bahwa ada pembauran antara pemahaman terhadap jejak leluhur mereka ke sekelompok kecil populasi orang-orang Afrika yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.Teori yang paling banyak diterima mengenai asal manusia modern adalah leluhur manusia (Homo sapiens) berasal dari Afrika. Kronologinya berkisar pada 200 ribu tahun yang lalu. Pada teori Out of Africa ini, sekelompok kecil manusia Afrika meninggalkan benua tersebut untuk menempati belahan bumi lainnyasekitar periode 50 hingga 60 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, temuan genetik Neanderthal ditemukan di orang-orang Eropa, Asia, dan Oseania.
Jumlahnya mungkin lebih sedikit, tetapi menggambarkan keterwakilan yang lebih banyak daripada analisis genetika sebelumnya. "Mereka tak sepenuhnya punah. Dalam diri kita, mereka masih tetap ada walaupun hnya sedikit." kata Professor Svante Paabo dari The Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, belum lama ini seperti dilansir BBC.Tak jauh berbeda dari pendapat Paabo, ketua tim peneliti asal manusia di Natural History Museum London, Professor Chris Stringer, mengakui, ia adalah salah satu pendukung teori Out of Africa. "Kita sudah tahu dalam beberapa cara bahwa sepertinya Neanderthal itu dari alur yang berbeda. Tapi, tentunya, yang mengejutkan bagi kita adalah kemungkinan adanya perkawinan antara Neanderthal dan manusia modern pada masa lalu," ujar Stringer.
Gen Neanderthal
Asisten Profesor Antropologi di Uni-versity of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, John Hawks, berpendapat, manusia modern itu justru dari manusia Neanderthal. "Itu mungkin saja. Tapi, saya terkejut dengan jumlah kemungkinan kontribusi genetik Neanderthal-nya yang mencapai empat persen," ujarnya.Pengategorian gen Neanderthal adalah pembagian berdasarkan kajian ilmiah yang dihasilkan dari upaya penelitian Institute Max Planck, Jerman, yang sudah dilakukan selama empat tahun. Penelitian ini melibatkan banyak perguruan tinggi dan menghasilkan temuan berdasarkan teknologi analisis gen yang diproses pada saat bersamaan.
Pengategorian Neanderthal ini terdiri atas DNA yang diekstraksi dari tulang tiga individu Neanderthal yang ditemukan di Gua Vindija, Kroasia. Bahan genetika yang dijanikan sampel ini berasal dari sisa manusia ribuan tahun lampau yang bisa mengungkapkan berbagai misteri alam.Sampel-sampel ini sering kali terdiri atas sedikit jumlah DNA dari genetika bakteri dan fungi yang berkoloni di sisa jasad makhluk hidup.DNA Neanderthal ini sendiri memecah diri ke dalamsegmen-segmen yang sangat pendek dan berubah secara kimiawi. Unsur kimianya berubah secara alami yang membuat para peneliti menuliskan perangkat lunak untuk mengoreksinya.
Dalam Jurnal Science, para peneliti ini menjelaskan cara mereka membandingkan hasil kategori gen manusia modern di seluruh dunia. "Perbandingan kedua kategori genetik ini memungkinkan kita untuk menemukan di mana letak perbedaan genetik dari hubungan terdekat yang ada," kata Paabo.Sementara itu, Hawks menilai, hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa gen non-Afrika (dari Eropa, Cina, dan Nugini) lebih dekat ke pemetaan Neai-derthal daripada manusia dari Afrika. Para peneliti juga mengungkapkan, kemungkinan adanya pembatasan dalam perkawinan atau aliran gen antara Neanderthal dan leluhur manusia modern (Eurasian).
Kemungkinan lainnya, muncul suatu tempat yang ditinggalkan orang Afrika, di mana mereka menjadi perintis populasi tertentu. Tempatnya, bisa saja di Afrika Utara atau Semenanjung Arab.Profesor Stringer menambahkan, fungsi-fungsi nyata dari bukti sisa gen itu bisa diteliti, tapi bisa menjadi fokus di tahap penelitian berikutnya. Teori Out of Africa mengungkap bahwa manusia modern menggantikan populasi Neanderthal yang lebih purba, tapi ada serangkaian gagasan mengenai hal ini. Model yang paling konservatif adalah pertukaran populasi ini terjadi tanpa perkawinan antara manusia modern dan Neanderthal.
Sumber:  http://bataviase.co.id/node/210307
              
  MANUSIA MODERN                                     





Siapakah manusia modern itu? Ada dimanakah mereka? Apa karakteristiknya? Apa yang membedakan mereka dengan masyarakat tradisional? Betulkah mereka semakin individualistik?

Seorang sejarahwan mengatakan bahwa era modern adalah era 'tekhnikalistik,' itulah yang membedakannya dengan era tradisional. Ukurannya, alat-alat yang dipergunakan untuk menopang kehidupan manusia agar lebih baik, hidup lebih efektif dan efisien. Singkatnya, menjadi modern adalah menjadi maju.

Kini, kemoderenan juga dikaitkan dengan nilai, kesadaran akan semesta. Efektivitas dan efisiansi tidak selalu terkait dengan kecanggihan dan pemborosan. Alat-alat sudah memenuhi bumi ini, bahkan mungkin sudah memasuki taraf menyesakkan. Orang mulai berfikir, bagaimana lingkungan dimana kita hidup terlihat lebih segar, tidak menyesakkan.

Orang bilang orang modern lebih individualistik. Pendapat itu bisa benar bisa salah. Ya, benar mungkin dalam karakteristik individu yang sibuk mengurusi kebutuhan masing-masing, pekerjaan dan kewajiban yang menumpuk. Tapi, toh mereka juga ada dimensi sosialnya. Alat-alat yang tersedia dan memadai, memungkinkan mereka untuk bertemu, tanpa harus ada tutur kata. Tranportasi umum contohnya. Orang berdasi dan berjas hitam, bisa bersama-sama dengan orang bersandal jepit atau mahasiswa yang membawa backpack, tanpa harus saling mengamati.

Kadang, kita merasa modern ketika setiap orang membawa alat transportasi sendiri-sendiri. Sebuah keluarga yang berkelebihan bisa memiliki kendaraan lebih dari sekian. Suami, istri dan anak, masing-masing satu. Bukankah itu yang lebih individualistik. Tak peduli jalanan sesak. Yang penting ada duit, dan kita mampu membeli bensin. Itu mungkin yang selalu ada dalam benak kita. Aku juga menyadari, klaim kita sebagai bangsa besar, bangsa yang punya kepedulian sosial, suka bersosialisasi, adalah narasi semata. Kita sesugguhnya lebih individualistik dalam hal ini.
 Sumber: http://h4latief.multiply.com/photos/album/6/Manusia_Modern

Pada dasarnya sifat dasar manusia itu adalah sama, hanya yang membedakan adalah jasmani, kepribadian, intelektualitas, tingkat pengendalian diri, pendirian, ketabahan dan kesabaran serta keinginan.
Karena pada dasarnya apa yang kita sukai , sebagian besar orang lain juga cenderung berfikir sama seperti apa yang kita fikirkan dan kita sukai. Seperti halnya contoh jika kita suka dengan orang yang jujur, pandai,dermawan, baik hati, dan lain-lain sifat dan perbuatan baik lainnya yang kita sukai. Orang lain juga akan cenderung berfikir dan menilai sama seperti apa yang kita fikirkan dan kita sukai.
Seperti halnya contoh :
-Jika kita marah bila disakiti orang lain,begitupun sama orang lain juga akan marah bila disakiti oleh kita.
-Jika kita tidak suka dan benci bila dibohongi orang lain, orang lain juga akan merasakan dan berfikiran sama tidak suka jika dibohong oleh kita.Dan lain sebagainya.
Begitupun sebaliknya.
-Apa yang kita suka, orang lain juga akan suka.
-Apa yang kita benci, orang lain juga akan benci.
Inilah yang membuktikan pada dasarnya sifat manusia itu pada dasarnya sama.
Oleh karena itu perlakukanlah orang lain seperti memperlakukan diri kita sendiri, agar tercipta hubungan harmonis antar sesama manusia.
Jangan pernah membedakan manusia dari warna kulit, suku, ras, dan agama, karena pada dasarnya sifat manusia itu adalah sama .

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More